Sejauh Apa Derita Wanita Bekerja..... ???

Diposting oleh fajar islami | 10.17 | | 0 komentar »




Tadi pagi, ketika saya menunggu anak saya latihan basket di Taman Putra Perdana, satu daerah tempat pelatihan dan persiaran keluarga di Malaysia, saya membaca sebuah majalah wanita keluaran Malaysia, dengan salah satu rubrik terdepan yang cukup menyita perhatian, judulnya “Luahan Hati Seorang Wanita” (curhat seorang wanita).

Ini adalah luahan hati seorang wanita pekerja, saya istri dan juga ibu dari 7 anak (Subhanalloh, banyaknya. Memang di Malaysia, untuk memperbanyak keturunan agar ras India dan China tidak merajai jumlah penduduk di Malaysia, seorang Ibu Melayu digalakkan oleh pemerintah untuk beranak banyak--penulis).

Ibu itu bercerita lagi, katanya:’’Saya ingin berkongsi pengalaman, yang rasanya juga dialami oleh sebagian besar wanita masa kini baik yang duduk (tinggal) di perkampungan mau pun yang di perkotaan.

Wanita kini tidak seperti wanita dahulu kala, mereka seiring dengan kaum lelaki mencari nafkah untuk keluarga, lebih lagi kehidupan modern sekarang yang menuntut ’nafkah‘ lebih dalam sebuah keluarga.

Namun, usaha wanita membantu keluarga mencari nafkah sering dianggap sepi, bahkan dianggap bahwa sudah seharusnyalah mereka membantu para suami untuk mencari nafkah, kalau tidak, maka tidak cukup.

Jam lima petang bukanlah pengakhiran tugas harian seorang wanita, walaupun ini menandakan berakhirnya tugas di tempat kerja, karena masih ada satu lagi tugas menunggu, yaitu mengurus rumah, anak-anak, dan lain-lain yang mana dalam hal ini suami-suami tidak merasakan ini juga bahagian tugasnya (Aniqah,196/01/2010-majala
h Wanita Islam terbitan Malaysia).

"Ya, betul. Beban kerja bagi wanita bekerja, sangat berat. Selain kerja-kerja di atas, juga memeriksa PR anak-anak dan wajib berhias diri untuk suami, tambah saya dalam hati".

Seorang ibu juga kadang menyediakan telinga untuk mendengar berjuta keluhan, ikut membayar sampah, koran, dan pusing tujuh keliling dengan tagihan yang bertumpuk, sementara rapat RT pun serta membuat penganan arisan harus juga kita lakukan.

Hati ini demikian semakin gundah gulana ketika suami mengkritik masakan yang katanya tak enak dilihat karena sebagian lauk kita beli di warung. Kata sang suami: “Kalau selalu seperti ini, nanti anak-anak kebiasaan makan makanan dari warung dan juga MSG yang banyak. Lain kali, kalau bisa, Ummi masak sendiri lah. Selain lebih hemat, juga lebih bersih, dan abi serta anak-anak pasti lebih suka masakan Ummi.”

Demikian kata-kata lembut namun menusuk dari suamiku tanpa rasa bersalah (ini yang aku rasakan lho..) Dan, hal ini cukup membuat airmataku berlinang dengan tenang, setelah pulang kerja dengan badan pegal-pegal tak keruan.

Di negara Barat, aku baca di internet, banyak wanita bunuh diri akibat tekanan keluarga yang dirasakan tertumpu padanya. Walau memang benar, bunuh diri diharamkan dari ajaran Islam dan kita pun akan tetap bersabar terhadap hal ini.

Ini membuktikan bahwa sebagian besar wanita di dunia ketika harus mendapat tekanan untuk bekerja mencari nafkah, juga beban tugas di rumah yang menumpuk, selain harus melayani suami dan mengurus anak-anak, dan bahkan sebagian ada yang manjadi dai’yah dan berdakwah diluar rumah, Subhanalloh, bila beban terlalu berat dan menjadi tekanan, apakah akan terjadi ketidak seimbangan yang mana wanita kembali menjadi korban?!

Semoga ada solusi bagi wanita Islam dan seluruh wanita di dunia agar berbagi peran dengan suami dan masyarakat. Menjadikan tidak semua beban rumah tangga tertumpu pada wanita yang bekerja. Harus banyak pengertian dari para suami, bahwa sang istri diam-diam memerlukan bantuan, terutama dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Semoga sebuah slogan masa lalu masih cocok juga untuk kehidupan rumah tangga para wanita bekerja,”Bersama Kita Bisa”

*****




“Selera makan dan minum Rasulullah saw. sangat halus. Baginda saw. sangat gemar makan daging tulang, daging leher, daging pinggang dan rusuk. Masakan istimewa orang Arab , sop dimakan bersama roti juga disukai. Madu, cuka, tembikai, timun, labu, mentega dan beras dimasak bersama kacang juga disukai. Nabi saw. juga menggemari memasukkan kurma bersama susu dan mentega. Baginda saw. tidak suka makanan pedas. Makanan manis adalah kegemaran Baginda saw.

Nabi saw. tidak makan makanan yang menyebabkan nafas berbau seperti bawang.Ketika minum ia tidak bersuara dan mengangkat gelas tiga kali dari bibirnya . Setiap kali gelas diangkat ia mengucapkan syukur kepada Allah. Selepas makan Nabi saw. akan membersihkan tangannya dengan membasuh. Baginda saw. menyukai orang -orang duduk bersamanya makan. Apabila dibuatkan sup Nabi saw menyuruh ditambahkan kuah supaya lebih ramai orang dapat merasainya.

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!
Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – atau pun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya! (At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

***

Dari catatan diatas, bisa kita tambahkan lagi beberapa hal yang berkaitan dengan cara makan Rosulullah Shalallahu 'alaihi wassalam, sbb:

- JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI , SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI.
- TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI.
- JANGAN SESEKALI TINGGAL MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGAL MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya...cobalah.................................Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek.... Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.
- Dalam kitab juga melarang kita* makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. *
Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

- *Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan spt membuat amalan antara lain: *
- *Mandi Pagi sebelum subuh, *sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.

- Rasulullah mengamalkan *minum segelas air sejuk *(bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).

- Waktu sholat subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu *sujud sekurang kurangnya semenit *setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.

- Nabi juga mengajar kita *makan dengan tangan* *dan *bila habis hendaklah *menjilat jari.* Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan)

Wallahu a'lam, salam-ku*

Sumber : Dari berbagai sumber termasuk Nurkholis, M.S.I




Jiwa yang tak pernah dibacakan Al-Quran, seperti kuburan. Sepi, sendirian, dan kering-kerontang. Zaman ini, sedikit sekali orang-orang yang hafal Al-Quran. Kita bisa melihat, para orang tua lebih resah kalau anaknya tidak bisa matematika atau bahasa Inggris, ketimbang tidak tahu Al-Quran. Padahal, itu adalah keluarga Muslim. Padahal, sebagai orang Islam, kita harus yakin, hanya Al-Quran lah sebagai petunjuk hidup kita.

Ketika zaman semakin berputar mengikuti arus syahwat manusia, selayaknya lah kita sebagai orang Islam (mungkin) harus mulai kembali menanamkan azam dan niat, tekad dan keinginan untuk mulai menghafal Al-Quran.

Dan untuk memudahkan menghafalnya, ada beberapa teknik dan persiapan yang khusus yang bisa dipakai. Beberapa di antaranya:

* lkhlaskan niat dan bersabar
* Jangan lupa baca basmillah dulu
* Berdoa kepada Allah swt
* Bersih dari hadas kecil dan besar
* Sebaiknya menghadap kiblat
* Memakai pakaian putih yang bersih dan menutup aurat
* Jangan banyak berkata dan ketawa ketika membaca dan menghafal
* Memberikan perhatian sepenuhnya
* Jangan membaca ketika mengantuk atau menguap
* Berhenti membaca ketika ingin buang angin
* Salat dua rakaat sebelum memulai



SEBELUM MENGHAFAL

1. Mempunyai azam dan minat untuk menghafal
2. Memilih waktu yang sesuai untuk menghafal
3. Memilih tempat yang sesuai untuk menghafal
4. Berada dalam keadaan tenang
5. Tenangkan pikiran sebelum menghafal
6. Pilih sebuah jenis mushaf dan jangan ubah dengan jenis mushaf lain
7. Beristighfar, membaca selawat dan doa sebelum mulai menghafal

TEKNIK-TEKNIK MENGHAFAL

A. Teknik "Chunking” (potongan-potongan)

* Mengelompokan ayat yang panjang dalam beberapa bagian yang memang sesuai mengikuti arahan guru atawa ustadz, jika belajar bersama mereka
* Mengelompokan awal surat pada beberapa bagian (2 atau 3 bagian) yang sesuai
* Mengelompokan surat dalam beberapa bagian, contohnya mengikut pertukaran cerita
* Mengelompokan juz kepada beberapa bagian mengikut surah, hizib, rubu', cerita dan sebagainya
* Mengelompokan kelompok surah, setiap 10 juz dan sebagainya

B. Teknik Mengulang

* Membaca sepotong atau sebagian ayat sekurang-kurangnya lima kali sebelum mulai menghafalnya
* Membaca ayat yang telah dihafal berulang-ulang kali (10 atau lebih)
* sebelum berpindah ke ayat seterusnya
* Selepas menghafal setiap setengah halaman, harus diulang beberapa kali sebelum diteruskan bagian yang setengah halaman lagi
* Sebelum menghafal bagian Al-Qur'an seterusnya, harus diulang bagian yang sebelumnya.

C. Teknik Menghafal Dengan Teman

* Pilih seorang teman yang sama-sama berminat
* Orang pertama membaca dan disimak oleh orang kedua
* Orang kedua membaca dan disimak oleh orang pertarna
* Saling menyebut ayat antara satu sama lain



E. Teknik Mendengar Kaset/CD

* Pilih seorang qari yang baik bagi seluruh Alquran atau beberapa qari bagi surah-surah tertentu
* Sebelum mulai menghafal, dengar bacaan ayat-ayat yang ingin dihafal beberapa kali
* Amati cara, lagu dan tempat berhenti bacaan qari tersebut sehingga terpahat di pikiran
* Mulai menghafal ayat-ayat tersebut dengan cara dan gaya qari tersebut
* Sentiasa mendengar kaset/CD bacaan Alquran dan kurangi atau tinggalkan mendengerkan lagu-lagu kerana akan mengganggu penghafalan

F. Teknik Merekam

* Rekam bacaan kita di dalam kaset dan dengarkan lagi untuk memastikan bacaan dan hafalan yang betul
* Bagi kanak-kanak, rekam bacaan ibu-bapa atau guru kemudian diikuti oleh bacaan kanak-kanak tersebut
* Minta kanak-kanak tersebut mendengar kembali rekaman tersebut beberapa kali hingga menghafalnya

G. Teknik Menulis

* Tulis kembali surat yang telah dihafal. Kemudian cek lagi dengan mushaf.
* Menulis setiap ayat pertama awal surat, atau setiap rubu', atau setiap juz, atau setiap surah dalam sehelai kertas.

MEMELIHARA HAFALAN

1. Jauhi maksiat mata, maksiat telinga dan maksiat hati
2. Banyak berdoa, terutama waktu mustajab doa seperti ketika berbuka puasa, ketika dalam perjalanan, selepas azan dan lain-lain lagi
3. Menetapkan kadar bacaan setiap hari, contohnya, selembar, setengah juz, 1 juz dan sebagainya
4. Membaca pada waktu pagi dan mengulangnya pada waktu malam
5. Jangan membaca ketika sedang bosan, marah atau ngantuk
6. Menulis setiap ayat yang mutasyabih

(sjh/berbagaisumber)

Saudaraku, JAGALAH PUTRIMU.....!

Diposting oleh fajar islami | 09.59 | | 0 komentar »


Oleh : Muhammad Sarbini MHI


mempunyai anak yg sholehah adalah dambaan semua orang tua...


Saudaraku yang budiman…
Alloh berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim [66]: 6)

Ibnu `Abbas rda berkata:
“Didik dan ajarkanlah ilmu kepada mereka”.

Qotadah rhm mengatakan:
“Memerintahkan mereka untuk ta`at kepada Alloh, melarang mereka dari berma`siat kepadaNya, menegakkan perintah Alloh terhadap mereka dan memerintahkan, mendukung dan memebantu mereka untuk menegakkannya”.

Ad-Dohhak dan Muqotil bin Hayyan rhm berkata:
“Seorang muslim wajib mengajarkan keluarganya, kerabat, budak perempuan dan laki-lakinya tentang apa saja yang difardhukan dan dilarang oleh Alloh Swt”.

Ayat ini menegaskan amanah yang diemban di pundak-pundak kaum mukminin yaitu memelihara dan menjaga diri serta keluarga tercinta dari jilatan api neraka. Amanah ini berarti mewajibkan kita semua mendidik istri-istri, putra dan putri kita semua di bawah naungan Islam. Kita wajib menjaga dan memelihara mereka dari semua konsep, pandangan, perkataan dan perbuatan yang menjerumuskan mereka ke api Jahannam.



Saudaraku yang budiman…

Pemberian sebesar apapun harta untuk istri, putra dan putri kita tidak sama sekali bisa menyelamatkan mereka dari api Jahannam, jika bukan Tauhid dan Sunnah yang kita didik bagi mereka. Sebesar apapun bekal ilmu-ilmu sosial/duniawi, keahlian kerja apapun untuk istri, putra dan putri kita tidak sama sekali dapat memasukkan mereka ke dalam syurga jika bukan iman dan amal sholih yang tumbuh di jiwa dan raga mereka.

Semua tiada guna, semua tiada harga, semua hanya kepuasan palsu di dunia fana, yang sebentar lagi akan lenyap kita tinggalkan tanpa sisa.

Rasululloh bersabda,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَنْقِذُوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا مَعْشَرَ بَنىِ كَعْبٍ أَنْقِذُوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ أَنْقِذُوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى وَاللهِ لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا إِلاَّ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَلِهَا

“Hai kaum Quraisy, selamatkanlah diri-diri kalian dari api neraka. Hai Bani Ka’ab selamatkan diri kalian dari api neraka, Hai Fathimah putri Muhammad selamatkan dirimu dari api neraka. Demi Alloh, sesungguhnya aku tidak sanggup membela kalian sedikitpun di sisi Alloh, kecuali hanya sekedar hubungan rahim yang memberikan kesejukan sekejap saja…..” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hubungan kekerabatan kepada makhluk yang mulia saja tidak dapat menyelematkan keluarga Rosululloh saw dari api neraka, bagaimana pula dengan kita yang sama sekali tidak terkait dengan hubungan kemuliaan apapun, kecuali taqwa, iman dan amal sholih kita? Marilah kita merenungkan kehidupan kita yang sesungguhnya.


Saudaraku yang budiman…

Marilah kita renungkan sejenak tentang putri kita khususnya. Mencari dan memilih sarana pendidikan yang akan menghantarkan putri-putri kita ke dalam syurga dan menjaga mereka semua dari api neraka adalah kewajiban kita. Sarana pendidikan yang mengajarkan kemurnian Islam, Tauhid dan Sunnah Nabi yang mulia. Bukan sekedar wahana pendidikan yang mengarahkan mereka untuk memeras keringat mencari kerja, bukan pula mengejar ijazah menjadi sarjana (selembar kertas prestise) duniawi belaka. Bukan pula hanya meraih prestasi duniawi (seperti cerdas berbahasa Inggris, Ahli Kimia, Biologi, Matematika dan lain-lain)

Jawablah dengan iman Anda, jika bisikan syaithon mengatakan “Putri-putri kita pun butuh pekerjaan yang akan mendukung nafkah kehidupan mereka, saat kita telah tiada ?”. Ya butuh tapi syaithon bukan sedang membisikkan kita butuh pekerjaan untuk nafkah putri-putri kita, tapi menjadikan tujuan kehidupan asasi yang dipertuhankan. Bukankah demi sebuah pekerjaan mancari nafkah, perintah-perintah dan larangan-larangan Alloh pun siap dilanggar dan ditinggalkan karena menjadi penghalang ? Bahkan kita buat seribu dalih kesulitan dan kedarurotan untuk lepas dari dosa yang kita lakukan ? Padahal putri-putri kita dapat bekerja tanpa melanggar perintah dan larangan Alloh . Menjadi guru wanita, menjadi penulis produktif, menjadi konsultan kaum wanita dan lain-lain. Bahkan menjadi iburumah tangga yang akan menjadi madrasah generasi anak cucu yang mulia. Kita tinggalkan pengabdian itu semua demi harta yang ditelan perut dan dilapukkan tubuh dalam hitungan detik waktu padahal Alloh berfirman,

meretas generasi rabbani....

• •

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Alloh dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56-58)

Menegaskan ayat ini, Rosululloh saw bersabda:
يَاابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلأُ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدُّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ صَدْرَكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Hai anak Adam… Penuhilah hidupmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi jiwa kekayaan dalam dadamu dan aku tutup kefaqiranmu. Jika engkau tidak mau melakukannya, niscaya Aku penuhi jiwamu dengan kesibukan dan tidak Aku tutup kefaqiranmu”. (Hr. Tirmidzi dengan sanad yang hasan).

Jawablah dengan iman Anda, jika was-was syaithon mengatakan “Bukankah anak-anak kita pun butuh sarana pendidikan yang nyaman dan representatif ?”. Ya betul..tapi syaithon bukan sedang membisikkan kita tentang sarana yang nyaman dan representatif semata, tetapi dia hendak membuat kita menjadikan itu semua sebagai suatu prinsip pendidikan putri-putri kita. Apapun demi sarana yang nyaman dan representatif kita lakukan, sampai-sampai harus meninggalkan toleransi kepada ketidak murnian agama sekalipun, dengan mentoleransikan sedikit kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan, bercampur baur laki-laki dan wanita didalamnya pun. Sama sekali tidak terpikirkan oleh kita bahwa tempat kembali putri-putri kita di akhirat jika semua itu disepelekan adalah lebih perih dan lebih sedih dari tempat pendidikan yang kita bayangkan tidak nyaman, tapi mengajak kemurnian Islam.
Alloh berfirman,

• • •

“Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (QS. Az Zumar [39] : 15-16)

Yang dimaksud “orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat” adalah bahwa di akhirat kelak mereka sama sekali tidak memiliki hubungan, diri mereka sendiri di neraka sedangkan keluarga mereka di dalam surga atau seluruhnya mereka di dalam nekara.

Jawablah dengan iman anda, jika syaithon membisikkan “Bukankah anak-anak kita saat ini membutuhkan ijazah pendidikan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ?

Ya betul…tapi semua itu sebenarnya hanyalah tipu daya syaithon palsu dalam menjebak manusia di alam pertempurannya dengan antek-antek syaithon itu sendiri. Berapa banyak pekerjaan tidak menampung orang-orang yenga berijazah? Berapa banyak orang-orang yang berijazah tak bisa melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya? Berapa banyak orang-orang yang berijazah telah menjadi rampok-rampok masyarakat? Berapa banyak orang-orang yang berijazah telah menjadi para pelacur dunia? Dan masih banyak yang lainnya. Cerdaskah? Bahagiakah? Senangkah? Atau sebaliknya. Apalagi kalau itu dijadikan rasa takut untuk anak-anak putri kita seakan sebuah keniscayaan untuk bisa hidup di alam dunia. Ingatlah hanya dengan kesolehan kita dan seluruh keluarga kita yang dapat menghantarkan kita ke dalam ampunan Alloh Swt dengan memasuki Surga `Adn. Alloh Swt sampai-sampai bercerita bahwa para Malaikat mulia pemikul `ArsyNya mendoakan orang-orang yang beriman dan keluarga-keluarga mereka.

Alloh Swt berfirman:

"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):"Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar". (QS. al-Mu`min [40]:7-9)

Rosululloh saw dengan sangat tegas bersabda:

إِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ إِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Alloh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya engkau akan dapati Alloh ada di hadapanmu”. (Hr. Bukhori dan Muslim)


lihatlah ketika bunga telah mekar...
betapa indahnya...
harum semerbak, mewangi....

Ingatlah saudaraku… Saatnya kita jangan salah pilih untuk pendidikan anak-anak kita, terutama putrid-putri kita tercinta. Jangan terjebak oleh rayuan dunia yang sangat sempit, singkat dan fana. Hanya dengan mendidik mereka dalam kemurnian, kemurnian tauhid yang hanya beribadah kepada Alloh Swt dengan benar, hanya dengan amal sholih yang mencontoh seluruh kehidupan Rasulullah saw dan para sohabatnya, niscaya kehidupan kita akan bahagia dunia dan akhirat. Jangan sekedar memandang tempat yang nyaman dan representafif, jangan hanya mengejar ujian nasional yang sukses, jangan hanya menilai kecerdasan ilmu-ilmu duniawi dan jangan hanya bercita-cita menutupi perut atau tempat tinggal buat orang-orang yang kita cintai.

wabillahi taufik wal hidayah,




Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya
dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat
untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya
terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

Contohlah Rasulullah, yang setiap subuh selalu mendapat asupan udara segar.
Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Biasanya orang yang
memulai kehidupan di pagi hari dengan bangun subuh, akan menjalani hari dengan
penuh semangat dan optimisme. Berbeda dengan orang yang tidak bangun di subuh
hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas untuk beraktivitas.

Untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya pada pagi hari, Rasulullah SAW biasa
memakai siwak. Siwak mengandung flour yang sangat bermanfaat dalam menjaga
kesehatan gigi dan gusi. Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat
berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya
proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

Rasulullah saw membuka menu sarapannya dengan air dingin yang dicampur dengan
madu. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim
nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya madu bisa menjadi
obat atas berbagai penyakit. Madu berfungsi untuk membersihkan lambung,
mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir, luka bakar, dan
peradangan.untitled

Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw menjelang
siang. Beliau pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka
akan terlindungi dari racun.” Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi
menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di
perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh
zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibu al Barra’, salah
seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi
Rasulullah saw selamat dari racun tersebut. Rahasianya adalah tujuh butir kurma
yang biasa dikonsumsi Rasulullah saw.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun.
Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan
pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantara mencegah lemah tulang,
kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol, dan melancarkan
pencernaan.

Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur- sayuran. Secara
umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya
tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit.

Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas
terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan
mudah dicerna. Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah saw bersabda:

Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan shalat, serta
janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian
menjadi keras.”

Panduan Diet Ala Rasulullah mencoba menggabungkan unsur keteladanan diet ala
Rasulullah dengan pengetahuan ilmiah.

Recent Readers