Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

BELAJAR DARI MUALAF ABDUL AZIZ: LEBIH MUDAH MENGISLAMKAN ORG HINDU DRPD MENGISLAMKAN ORG ISLAM,KRN TERNYATA BNYK ORG ISLAM YG BKN MUALAF LBH SERING MENJALANKAN TRADISI2X JAHILIYAH DARIPADA SYARIAH ISLAM

Di Indonesia jg ada pendeta hindu yg mempelajari agama dan akhirnya menemukan kebenaran dlm ISLAM: Seorang mantan Pendeta Hindu yang bernama asli Ida Bagus Erit Budi Finarno, SAG yang lahir di Tabanan Bali sebagai kasta tertinggi orang Hindu yaitu kasta Brahmana, sejak tahun 1995 mengganti namanya dengan Abdul Aziz setelah beliau mendapat hidayah memeluk agama Islam.



Beberapa waktu ini sedang gencar pemberitaan tentang ibu Musdah Mulia [yang tidak mulia] seorang tokoh liberalisme Indonesia yang mempropagandakan paham sesat liberalisme. Bagi sementara orang awam yang [maaf] sok modern, mengira bahwa paham itu benar adanya, karena dibalut manis dengan ayat-ayat Qur'an. Seakan-akan kita diajak untuk berpikir dan merenungi ayat-ayat Allah tersebut. Belakangan kita digiring dengan pemahaman yang sesat super sesat dan menyesatkan.

Dari berbagai aliran sipilis; sekuler, pluralisme dan liberalisme, yang paling berbahaya adalah Islam Liberal. Dengan Pluralisme yang menyatakan semua agama benar, mereka sudah merusak aqidah Islam sebagai satu-satunya agama di sisi Allah. Dengan Sekularisme, mereka menolak hukum-hukum Allah/Syari’at Islam. Sebagai gantinya mereka memakai hukum sekuler buatan kaum Yahudi dan Nasrani. Dengan Liberalisme, mereka putar-balikkan arti ayat-ayat Al Qur’an sesuai hawa nafsu mereka. Padahal cara mentafsirkan Al Qur’an yang benar adalah dengan memakai ayat-ayat Al Qur’an lain dan Hadits-hadits yang sahih sebagai penjelas. Kaum Liberal ini menyusup ke berbagai ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, IAIN, dsb



Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk ushul iman (pokok keimanan) yang bergandengan dengan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ

"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik"." (QS. Al Taubah: 24)

URGENSI AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR...

Diposting oleh fajar islami | 09.38 | | 0 komentar »


Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Ba’du:
Allah SWT berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. QS. Ali Imron: 110


Tahun baru masehi pada zaman kita ini dirayakan dengan besar-besaran. Suara terompet dan tontonan kembang api hampir menghiasi seluruh penjuru dunia di barat dan di timurnya. Tidak berbeda negara yang mayoritas penduduknya kafir ataupun muslim. Padahal, perayaan tersebut identik dengan hari besar orang Nasrani.

:: Fatwa First::

Saying Merry Christmas and Celebrating Christmas Together

Here is the fatwa of the Saudi cleric, Sheikh Muhammad bin Sholeh al Uthaymeen rahimahullah, from a collection of treatises (written) and his fatwa (Majmu 'Fataawa wa Rosail Ibn' Uthaymeen), 3/28-29, no. 404.

Rahimahullah He was asked,

"What law congratulate Christmas (Merry Christmas) on the infidels (Christians) and how to reply to their greeting? May we attend their celebrations (Christmas celebration)? Is someone guilty if he did the things that meant before, with no intention what-what? People are doing because they want to be friendly, because of embarrassment, because of depressed conditions, or for various other reasons. Can we tasyabbuh (resemble) them in this celebration? "

PENGAKUAN IBLIS DALAM MENGGODA MANUSIA....

Diposting oleh fajar islami | 14.52 | | 0 komentar »




Saudaraku, apakah saudara sudah mengenal dengan baik tentang IBLIS? Bagaimana dia menggoda manusia? Dengan kasih sayang-Nya Allah telah memaksa Iblis untuk memberikan jawaban jujur tentang dirinya kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Berikut ini dialog Iblis dan Rasulullah dalam hadits dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas RA:

Sebagian orang meyakini bahwa gunung merapi dan laut selatan dijaga atau dikuasa oleh lelembut yang “mbahureksa” menguasai dan mengatur apa-apa yang ada di kedua tempat tersebut.


Pada gunung merapi, mereka mayakini bahwa gunung merapi dikuasai oleh eyang merapi yang merupakan raja dan wakilnya bernama eyang sapu jagat, kedua eyang ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai Penunggu kawah Merapi inilah yang memegang kunci meledak atau tidaknya gunung tersebut.

Mereka diyakini membawahi beberapa lelembut lain yang tugas masing-masing. diantaranya yakni Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat. Eyang Megantara, Pemuka dedemit yang diyakini berdiam diri di puncak Merapi diyakini mengendalikan cuaca dan mengawasi sekitar kawasan Merapi. Nyi Gadung Melati, diyakini menjaga kesuburan tanaman gunung. Eyang Antaboga, diyakini tugasnya selalu menjaga

PERADABAN DUNIA TANPA PETUNJUK ALLAH

Diposting oleh fajar islami | 10.47 | | 2 komentar »


فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 37-39)

PERLUNYA AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR......

Diposting oleh fajar islami | 10.12 | | 0 komentar »





عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

وفي رواية : ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

NUZULUL QUR'AN ADALAH LAILATUL QADAR.......

Diposting oleh fajar islami | 08.00 | | 0 komentar »


Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadr bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan

Ketika memasuki malam yang ke 17 di bulan Ramadhan sebagian kaum muslimin dan masjid-masjid mulai diadakan peringatan turunnya al-Quran pertama kali yang disebut malam peringatan Nuzulul Quran. Hal ini juga ‘terkesan’ dikuatkan dengan catatan kaki dalam “al-Quran dan Terjemahnya” surat adh-Dhukhan ayat 3.
إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

DAKWAH TAUHID.........forever

Diposting oleh fajar islami | 11.41 | | 0 komentar »


[Ini adalah artikel yang selama ini saya cari]
Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.

RAMADHAN DI SAAT-SAAT PENUH FITNAH......

Diposting oleh fajar islami | 22.09 | | 0 komentar »

Belum pernah dalam sejarah Islam di Akhir Zaman kita merasakan keterasingan dari ajaran Islam sebagaimana yang kita alami dewasa ini. Kepemimpinan dunia dewasa ini diarahkan dari Barat yang notabene merupakan Judeo-Christian Civilization (Peradaban Yahudi-Nasrani). Segenap negeri kaum muslimin mengekor ke Barat. Keadaan ini telah di-Nubuwwah-kan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak dulu:

Beberapa bulan lalu saya mendapat sms dari seorang teman, bunyi smsnya begitu menyedihkan dan membuat hati ini ikut terluka membacanya. Bagaimana tidak, saya tidak percaya saja, orang yang selama ini saya sayangi dan saya kagumi rumah tangganya bermasalah, teman saya ini berumah tangga bukan baru setahun dua tahun, tapi sudah lebih dari 10 tahun, dan tidak pernah terlihat dalam rumah tangganya itu ada masalah.


,Ramadhan kehadiranmu kami tunggu, kami harapkan, dan kami butuhkan. Dan kini, kau sudah di ambang pintu kami Ramadhan, walau masih berada di ambang pintu, tapi wibawamu begitu terasa, begitu menyentuh, sehingga mampu merajut pundi-pundi kekuatan dalam diri ini, untuk bangkit menyambutmu.

Ramadhan di Babak Ke Empat Akhir Zaman......

Diposting oleh fajar islami | 19.31 | | 0 komentar »



Ramadhan Mubarok. Menjelang tibanya bulan Ramadhan, setiap orang beriman merasa berbahagia. Setiap pencintaal-khair (kebaikan) bersuka cita. Ada suasana penuh ketaatan dan kesucian yang sungguh dinantikan. Bukan rahasia lagi, bahwa sebagian besar ummat Islam mengalami perubahan penampilan bila sudah memasuki bulan penuh rahmat dan berkah Ilahi. Yang jarang muncul di masjid, tiba-tiba kita jumpai datang sholat ke masjid. Yang jarang membuka mushaf Al-Qur’an, sekonyong-konyong rajin tilawah. Muslimah yang tidak pernah menutup auratnya, mendadak tampil ber-jilbab.Subhaanallah.



KRISIS multi dimensi yang menimpa bangsa tercinta, bangsa Indonesia yang belum kunjung reda, dan bahkan makin melilit kuat menjerat rakyat kecil tanpa ada rasa belas kasih, serta membuat angka kemiskinan anak bangsa makin membesar, adalah akibat ulah tangan para pengelola yang tidak bertanggung-jawab. Keseimbangan yang merupakan ciri khas hukum penciptaan Allah diobrak-abrik oleh para pengelola bangsa yang buta mata hatinya.
Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, baik secara kolektif, krusial dan rumit.
Di antara sekian upaya yang dilakukan itu adalah apa yang dilakukan oleh Ary Ginanjar Agustian dengan


Wahai Saudaraku, Imanilah bahwa Jin itu Ada... (**VVV**)

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat ke-56 yang artinya, “Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. Perhatikanlah bahwasanya di dalam ayat tersebut Allah menciptakan dua makhluk yang sama-sama ditugaskan untuk menyembahNya. Jin diciptakan berdampingan dengan kita, hanya saja Allah telah memisahkan alamnya dengan alam kita. Dan hanya Allah Dzat yang tahu akan perkara yang ghaib.”


Sungguh aneh, seseorang yang belum pernah belajar bahasa Arab atau bahkan tidak mengenal bahasa Arab, tiba-tiba saja pandai berbicara dengan bahasa Arab. Dan tidak jauh berbeda, seorang yang berdomisili di Jawa Barat dan kurang begitu paham dengan bahasa Jawa, tiba-tiba dengan lembut berbicara bahasa Jawa Krama Inggil dengan begitu fasihnya. Demikianlah salah satu fenomena yang pernah kita jumpai di masyarakat kita. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dan ada apa dibalik semua itu?

Akankah kita menganggap bahwa hal itu hanyalah halusinasi semata karena pikiran orang tersebut sedang kosong, sehingga hal tersebut tidak perlu dihiraukan? Dengan kata lain, sebagian orang menganggap bahwa ini adalah salah satu gejala psikologis. Ataukah kita menganggap bahwa dia kerasukan setan sehingga harus dibawa ke dukun, orang pintar atau semacamnya agar dibebaskan dari belenggu setan? Na’udzubillahi min dzalik. Kita berlindung dari menjawab dengan kedua anggapan di atas, karena jika kita menganggap bahwa fenomena di atas hanyalah gejala psikologis semata yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan gangguan-gangguan spiritualitas seseorang, maka sungguh bisa jadi kita mendustakan keberadaan makhluk yang telah Allah ciptakan, yaitu jin. Padahal sudah sangat jelas adanya dalil tentang keberadaan makhluk ciptaan Allah yaitu jin, serta adanya dalil yang menunjukkan bahwasanya seseorang itu bisa kerasukan jin.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat ke-56 yang artinya, “Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. Perhatikanlah bahwasanya di dalam ayat tersebut Allah menciptakan dua makhluk yang sama-sama ditugaskan untuk menyembahNya. Jin diciptakan berdampingan dengan kita, hanya saja Allah telah memisahkan alamnya dengan alam kita. Dan hanya Allah Dzat yang tahu akan perkara yang ghaib.”

Wahai orang-orang yang menganggap bahwasanya kesurupan jin adalah sesuatu yang mustahil ! Ketahuilah bahwa kebenaran adanya fenomena kesurupan jin bukanlah sekedar imajinasi, halusinasi, khurafat, tahayul atau apalah namanya. Namun hal itu adalah peristiwa nyata yang didukung oleh banyak dalil dari Al Qur’an, hadits, serta merupakan ijma’ ulama.

Allah Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Qs. Al-Baqarah: 275)

Dalam hadits diriwayatkan dDari Utsman bin Abi Ash radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk mengurursi kota Thaif, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat. Tatkala aku merasakan hal itu, maka aku pergi menemui Rasulullah.

Beliau bertanya,“Ibnu Abi Ash?!”

Jawabku, “Ya, wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu kemari?”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah setan, kemari mendekatlah kepadaku”. Akupun mendekati beliau sedangkan beliau duduk di hadapanku. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memukul dadaku dengan tangannya dan meludah ke mulutku seraya berkata,”Keluarlah wahai musuh Allah!” Beliau melakukan hal itu sebanya tiga kali kemudian bersabda, “Lanjutkan lagi tugasmu.” Utsman berkata, “Sungguh, setelah itu saya tidak merasakan sesuatu itu mengangguku lagi.”
(Sanad hadits ini shahih sebagaimana ditegaskan oleh Al-Busyairi dalam Misbah Zujajah (4/36-Sunan) dan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 6/1002/2. Bahkan ada jalur-jalur lainnya yang menambah kuat keabsahan hadits ini)

Oleh karena itu Syaikh Al-Albani rahimahullah berkomentar,” Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa setan bisa merasuk ke badan manusia sekalipun dia orang yang beriman dan shalih. Banyak hadits yang mendukung adanya hal itu.” (Ash-Shahihah 6/1002/2)

Untuk dalil dari ijma’ ulama penulis bawakan perkataan dari Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata, “Al-Qur’an, sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kesepakatan umat telah menunjukkan bahwa jin bisa masuk pada jasad manusia. Lantas pantaskah bagi orang yang mengaku berilmu untuk mengingkarinya tanpa pijakan ilmu dan petunjuk. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.”

Terdapat juga pendapat ahli kedokteran yang mengakui adanya fenomena kesurupan. Seorang pakar ilmu kedokteran sekaligus ilmu islam lainnya, Syaikhul Islam kedua, Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, “Kesurupan itu ada dua macam: Kesurupan karena ruh-ruh jahat (baca: setan) dan kesurupan karena tercampurnya benda-benda yang kotor (penyakit kejang-kejang, ayan dan sejenisnya). Kesurupan jenis kedua inilah yang biasa dijadikan topik pembicaraan di kalangan ahli medis tentang faktor penyebab dan cara pengobatannya.”

Adapun kesurupan karena ruh-ruh (baca: jin), maka para pakar ilmuwan kedokteran tidak menolaknya, dan mereka mengakui bahwa cara pengobatannya yaitu dengan melawan ruh-ruh jelek dan keji tersebut dengan ruh-ruh yang baik dan suci sehingga melawan segala bentuk pengaruhnya dan mengusirnya.

Telah jelaslah wahai saudariku, bahwasanya fenomena seseorang kerasukan jin adalah benar adanya. Mengingkarinya adalah pendapat yang sungguh bathil. Karena sudah jelasnya dalil-dalil yang menunjukkan akan hal itu, yang pasti bisa diterima oleh akal sehat. Jadi yang perlu sangat diperhatikan, bahwasanya perihal mengimani/mempercayai adanya jin serta perbuatannya adalah termasuk permasalahan aqidah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati di dalam berucap dan bertingkah menyikapi adanya fenomena orang yang kesurupan jin.

Tanda –tanda seorang kerasukan jin

Berikut ini ada beberapa tanda-tanda yang bisa dikenali dari seseorang yang kemasukan ruh jahat/ kesurupan

1. Tanda dalam tidurnya
1. Sulit tidur malam.
2. Banyak bangun malam.
3. Mimpi yang menakutkan.
4. Melihat binatang dalam tidurnya seperti kucing, anjing.
5. Giginya mengerat.
6. Tertawa, mengigau, teriak dalam tidur.
7. Mengaduh-aduh dalam tidur.
8. Mimpi jatuh dari tempat yang tinggi.
9. Mimpi dirinya di kuburan, tempat-tempat yang kotor atau jalan yang menakutkan.
10. Mimpi melihat sesuatu dengan sifat-sifat aneh (tinggi sekali, hitam, menakutkan dll).
11. Mimpi melihat bayang-bayang dirinya dalam tidurnya.
2. Tanda saat sadar
1. Pusing terus menerus, dengan catatan bukan pusing karena ada badan yang sakit.
2. Berpaling dari berdzikir kepada Allah.
3. Hilang akalnya.
4. Lemah dan malas.
5. Mengkerut salah satu syarafnya (selalu tegang).
6. Merasa sakit pada salah satu anggota badan yang dokter tidak mampu mengungkap jenis penyakitnya.
7. Sempoyongan saat berjalan dan bicaranya tidak jelas.


Terdapat juga cara lain yang bisa digunakan untuk mengenali orang yang kesurupan, yaitu dengan menyenteri bola mata pasien. Pada bola mata akan kita dapati garis-garis seperti jam. Apabila pada titik jam sebelas (pada jam sebelas) ada garis melintang menembus manik mata menuju angka lima (pada jam) itu berarti kesurupan, dan jika tidak ada berarti penyakit lain. Wallahu a’lam

Lalu wahai saudariku,, apa yang harus kita lakukan jika suatu saat hal itu menimpa salah satu kerabat kita, teman kita, bahkan bisa jadi kita sendiri. Akankah kita menyerahkan kepada pihak yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai “orang pinter” sehingga tercampurlah noda-noda kesyirikan dalam diri kita? Jawabannya tentu tidak. Na’udzubillahi min dzalik. Karena agama yang sempurna ini telah menjelaskan berbagai hal tentang cara mencegah maupun mengobati orang yang terkena penyakit tersebut. Sebagaimana dengan dzikir-dzikir yang telah Rasulullah ajarkan.

Oleh karena itu, hati-hatilah wahai saudariku janganlah kita sampai salah mengambil tindakan untuk menangani penyakit tersebut dengan cara-cara yang tidak disyari’atkan, karena saat ini ternyata sudah mulai bermunculan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh “orang-orang pintar” yang katanya untuk membekali para guru di sekolah dalam menangani hal-hal semacam itu, dimana murid-murid di sekolah tersebut seringkali mengalami kesurupan.

Terapi untuk orang yang kesurupan itu ada dua cara:

1. Tindakan preventif (pencegahan sebelum terjadi)


Cara ini dapat ditempuh dengan berupaya menjaga dzikir dan doa pagi dan petang yang shahih, termasuk diantaranya seperti bacaan ayat kursi, sebab orang yang membacanya pada suatu malam, niscaya Allah akan selalu menjaganya dan setan tidak berani mendekatinya hingga datang waktu pagi. Demikian pula surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas serta doa/dzikir pagi dan petang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dalam hadits-haditsnya.

2. Mengobati setelah terjadinya kesurupan

Cara ini dapat ditempuh dengan ruqyah syar’iyah, yaitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan tentang ancaman, peringatan dan perlindungan kepada Allah dari syetan, sehingga jin itu keluar dari badan orang yang kesurupan dengan dibarengi keimanan dan tawakal yang mantap kepada Allah bagi orang yang meruqyah dan diruqyah.

Demikianlah wahai saudariku apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga bermanfaat dan kita senantiasa dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, yang dapat mengantarkan kita kekal di neraka. Wallahu Musta’an
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

salam_sitijamilahamdi

Maraji’:
Do’a dan Wirid, Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As-Sunnah” oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah. Penerbit Pustaka Imam Syafi’i, Bogor
Uyunul Anba fi Thabaqat Al-Athibba’ hal 3 oleh Ibnu Ab ‘Ushibah
Kesurupan Jin (Abu Ubaidah Al-Atsari), Majalah Al Furqon, edisi 10 Th III
Meruqyah Diri Sendiri Sesuai Syar’i. Tim Daar Ibnu Atsir.(Daar An Naba)



Latar Belakang

Dinamika kehidupan dunia yang berglobalisasi tanpa adanya satu kontrol dan saringan yang mumpuni akhir-akhir ini sangat mewabah di lingkungan kita. Di mana agama yang sebelumnya menjadi landasan kontrol moral dan akhlak manusia kini hanya seperti pekerjaan sambilan yang tidak terkesan penting. Hal itu sebetulnya sangat ironis karena dengan umat Islam menafikkan agama tentunya moral dan akhlakul karimah yang dimilikinya akan lenyap, dan ujung dari semua itu perbuatan amoral. Perbuatan munkar telah menjadi satu trendsetter terutama dikalangan muda Islam.
Untuk itu melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar termasuk kewajiban yang harus dilaksanakan setiap muslim untuk menyelamatkan masyarakat muslim dari berbagai bencana, penyakit dan kemaksiatan yang akan menghancurkan kehidupan umat Islam dan akan membunuh sendi-sendinya, serta pada puncaknya akan melenyapkan Islam dan pemeluknya.

Pada tulisan ini akan lebih ditonjolkan pengaplikasian dari amar ma'ruf nahi munkar yang diangkat dari hadits-hadits Rasulullah yang semata-mata diangkat dengan tujuan sedikit melebarkan mata kita tentang pentingnya melakukan kebajikan dan meninggalkan serta menjauhi apapun bentuk dari kemungkaran, yang sekarang ini telah luluh lantah sebagai dampak dari membomingnya globalisasi.

1. Apa yang dimaksud dengan amar ma'ruf nahi munkar?
2. Bagaimana pelaksanaan tingkatan amar ma'ruf nahi munkar?
3. Apa saja syarat-syarat perbuatan munkar yang wajib ditentang?

Pengertian / maksud dari amar ma'ruf nahi munkar

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan amar ma'ruf adalah menyuruh berbuat baik, dan nahi munkar adalah melarang berbuat jahat. Dan merupakan syiar agama yang utama dan tugas kaum muslimin yang besar. Allah SWT. telah memerintahkan kita agar berbuat baik dan melarang kita dari bebruat jahat di dalam kitab-Nya yang mulia, dan atas lisan Nabi-Nya seraya mengajarkan kita agar memberikan perhatian terhadapnya dan mengancam kita apabila mengabaikan tugas besar yang mulia.
Oleh karena itu, al-Qur'an dan as-Sunnah menegaskan pentingnya melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar dengan gambaran yang sangat mudah dan tidak rumit.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran : 104 :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dalam ayat di atas terdapat penjelasan tentang wajibnya mengajak manusia menuju kebaikan, memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan mencegahnya dari perbuatan munkar. Kemudian, pada ayat itu pun dinyatakan "Dan merekalah orang-orang yang beruntung", menunjukkan bahwa keberuntungan itu hanya untuk mereka yang melaksanakan tugas mengajak manusia kepada kebaikan, memerintahkan berbuat ma'ruf dan mencegahnya dari perbautan munkar (jelek).

Dan perlu diketahui juga, bahwa menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat (amar ma'ruf nahi munkar) adalah fardhu kifayah. Apabila sebagian kaum muslimin telah menjalankan tugas ini, maka gugurlah dosa sebagian yang lain orang yang menjalankan tugas itu akan memperoleh pahala yang besar dari llah SWT. tetapi, jika seluruh kaum muslimin mengabaikan tugas ini, maka dosanya akan menimpa setiap orang yang mengetahui hukum-hukumnya, manakala kemungkaran terjadi di depan matanya, sedang ia tidak merubahnya dengan tangan atau lisannya, padahal ia mampu melakukannya.
Akan tetapi, jika ajakannya itu belum sampai kepada semua orang yang menjadi sasarannya, setiap orang yang mengetahuinya harus melaksanakan kefardhuan itu, sehingga yang lain tidak dikenai hukum fardhu.

Sabda Rasulullah SAW.

"Jika manusia melihat kemungkaran tetapi tidak mengubahnya, hampir saja Allah SWT, meratakan mereka (untuk) memberikan siksa-Nya". (HR. Ash-Hab Sunan, Imam Tirmidzi, berkata, ini hadits Hasan Sahih)

Pelaksanaan Tingkatan Amar Ma'ruf Nahi Munkar


Untuk melaksanakan kewajiban amar ma'ruf nabi munkar terdapat beberapa tingkatan:

1. Pengenalan
Setiap mubaligh harus mengenalkan dan memberitahukan mengenai hukum Islam yang dilanggar oleh seseorang yang melakukan kesalahan dan menjelaskan hukuman Allah terhadap orang yang melakukan kemungkaran, serta kewajibannya yang harus dilakukan dengan cara lemah lembut.

2. Menasehati
Jika ada yang melakukan kemungkinan tetapi sebenarnya dia mengetahui bahwa itu perbuatan tercela atau mungkar, orang seperti harus diberi nasehat, dan ditakut-takuti dengan atau oleh siksaan Alah SWT. Akan tetapi pemberi nasehat harus waspada, jangan tersirat bahwa orang yang menjadi sasarannya, itu akan merasa dihina atau direndahkan.

3. Mencela dengan kata-kata kasar
Langkah ini mungkin dilakukan ketika dia tidak dapat mencegah kemungkaran dengan cara lemah lembut dan tantangan sedang menghadangnya.
Misalnya orang berani berbuat jahat dihadapannya atau langsung memperolok-oloknya.

4. Mengubah dengan tangan (kekuasaan)
Hal ini dapat dipergunakan untuk hal-hal, misalnya memecahkan alat kemungkaran (merobek kartu judi), menumpahkan minuman keras, memecahkan patung-patung, mengeluarkan orang yang duduk di malam masjid sedangkan dia mempunyai hadas. Akan tetapi tahapan ini tidak dapat langsung dilakukan, karena jika langsung dilakukan yang ada justru akan menimbulkan akibat yang lebih buruk lagi.

Rasulullah SAW bersabda:

"Dari Abu Said al Khudri r.a. dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan tangan (kekuasaannya), jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga, ubahlah dengan hatinya (diam saja), tetapi mengubah dengan hati (diam) itu merupakan iman yang paling lemah".
(HR. Imam Muslim dan Tirmidzi serta yang lain)

Hadits di atas menjelaskan bahwa apabila suatu kemungkaran terjadi di depan mata, maka mula-mula hendaknya menunjukkan kesalahan itu dan melarangnya dengan sikap lemah lembut, kata-kata yang baik dan mengingatkan tentang hukum-hukumnya.
Jika tidak berhasil, maka hendaklah kita mengingatkannya dengan berbuat nasehat, khususnya terhadap ancaman Allah bagi pelaku maksiat, mengingatkan dengan kata-kata yang keras, jika cara ini tidak berhasil pula, maka gunakanlah cara kekerasan dengan tangan dan kekuasaan untuk merubah kemungkaran itu dan meluruskannya.

Syarat-syarat Perbuatan Munkar yang Wajib Ditentang

Perbuatan mungkar yang harus di tentang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Perbuatan dinyatakan mungkar (jelek) menurut syari'at Islam baik yang termasuk dosa kecil maupun dosa besar, menentang kemungkaran tidak terbatas pada dosa-dasa besar saja.
2. Hendaknya kemungkaran (perbuatan buruk) itu ada seketika, misalnya melihat betul-betul yang sedang meminum arak, melihat yang sedang bercumbu rayu bahkan seseorang yang sedang mengumumkan kemungkaran.
3. Kemungkaran yang dilakukan itu jelas terlihat bukan berdasarkan berita tidak jelas.
4. Kemungkaran harus diketahui secara pasti (hukumnya) bukan hasil ijtihad, sebab jika hanya berdasarkan ijtihad, belum tentu semua ulama sepakat menyatakan haramnya. Jadi kemungkaran itu harus dinyatakan secara nas yang tidak dapat ditakwilkan.

KESIMPULAN

Bahwa yang dimaksud dengan amal ma'ruf nahi munkar adalah menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat dan ini merupakan syiar agama yang utama dan tugas kaum muslimin yang sangat besar.
Kemungkaran itu harus dinyatakan secara pasti melalui nas yang tidak dapat ditakwil diartikan dalam pengertian lain. Jika ada kemungkaran yang masih diikhtilafkan oleh sebagian ulama, menentangnya tidak wajib, sebab masih ada kemungkinan lain (mungkin tidka sepenuhnya mungkar atau terlarang) dan setiap orang mempunyai pendapat yang mungkin berbeda dengan pendapat yang lain dan dalil yang dipergunakan dapat dibenarkan.
Apabila suatu kemungkaran atau perkara yang salah terjadi di depan mata, maka mula-mula hendaklah anda menunjukkan kesalahan itu dan melarangnya dengan sikap lemah lembut, kata-kata yang baik dan mengingatkan tentang hukum-hukumnya. Namun, jika tidak berhasil, maka hendaklah anda mengingatkannya dengan berbagai nasehat, khususnya ancaman-ancaman Allah, dengan memaksa dan mencela. Jika cara ini tidak berhasil pula, maka gunakanlah cara kekerasan dengan tangan dan kekuatan untuk merubah kemungkaran dan meluruskannya.
Jika dengan cara pertama dan kedua sudah ditempuh tanpa melalui kesulitan berarti tidak perlu menempuh cara yang ketiga. Namun, jika dengan cara pertama dan kedua tetap tidak berubah, barulah kita memakai cara ketiga, cara ini tidak semua orang bisa melakukannya, orang yang berani menempuh cara itu hanyalah orang yang benar-benar menyediakan dirinya untuk membela hak-hak Allah.

wallahu a'lam

dari berbagai sumber

salam_sitijamilahamdi
penulis: fatih kafabih




Telah jelas dari pembagian Al-Quran menjadi ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah menunjukkan bahwa Al-Quran turun secara berangsur-angsur. Turunnya Al-Quran dengan cara tersebut memiliki hikmah yang banyak, di antaranya:

1. Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33,

“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”

2. Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106,

“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”

3. Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an.

4. Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna.
Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.

1. Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak membiasakan diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”

2. Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu waktu shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”

3. Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah untuk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

(Diringkas dari terjemahan Ushulun fi At-Tafsiri, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin (hlm. 36—38), penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang dengan beberapa penambahan penjelasan dan pengubahan aksara oleh www.muslimah.or.id)

***
salam_sitijamilahamdi

Recent Readers